Kreativitas dan kepekaan rasa para siswa SMK NU 1 Karanggeneng kembali tertuang lewat karya literasi yang inspiratif. Melalui bait-bait puisi, mereka mengekspresikan dinamika perjuangan, keteguhan tekad, hingga perenungan batin dalam menatap masa depan. Ruang literasi sekolah ini menjadi wadah berharga bagi siswa untuk merangkai kata dan menajamkan rasa, membuktikan bahwa semangat belajar tidak hanya tumbuh di ruang kelas, tetapi juga mekar melalui karya sastra.
Berikut adalah tiga karya puisi pilihan karya siswa-siswi SMK NU 1 Karanggeneng yang sarat akan makna kehidupan, kerja keras, dan optimisme.
Di Mana Sunyi Bersemi
Karya: Asti Mutiara Mahmudah (Kelas XI AK / No. Urut: 09)
Mutiara tak lahir dari laut yang diam.
Ia ditempa sunyi di kedalaman kelam.
Tak semua yang indah tumbuh dari kesunyian.
Sebagian lahir dari getir yang menjelma keindahan.
Di ujung pandang, fatamorgana menari.
Menyulam semu di cakrawala senja.
Namun, harapan tak cukup dipandangi.
Ia harus dijemput dengan langkah penuh keberanian.
Kurajut waktu dengan kesabaranku, sulam tekad di antara keraguan.
Setiap helai tampak sederhana.
Namun, diam-diam merangkai sebuah pencapaian.
Merajut prestasi bukan tentang gemerlap nama,
melainkan ketekunan yang tumbuh dalam sukma.
Meraih potensi bukan untuk mengejar pujian,
melainkan berani menyingkap tabir kemungkinan.
Merajut Prestasi, Meraih Potensi
Karya: Ayesha Fatima Azzahra (Kelas X BD)
Setiap waktu, kita merajut asa.
Dengan benang tekad, kita lawan ragu.
Lelah hari ini, jadi mahkota esok hari.
Di kelas, kita menenun mimpi.
Di lapangan, kita mengukir keringat.
Di panggung, kita nyalakan keberanian.
Tak ada "menyerah", hanya "bangkit lagi".
Potensi itu berlian.
Takkan bercahaya jika tak ditempa.
Saat badai datang, berdirilah.
Saat dunia bilang berhenti, melangkahlah.
Hari ini kami bersumpah:
merajut prestasi dengan usaha,
meraih mimpi dengan doa,
demi diri... demi bangsa.
Untuk Indonesia hebat!
Dari Jejak Menuju Terang
Karya: Numa-Inafa
Di bawah langit, sebuah jalan tak pernah menua.
Gemericik air menyimpan ribuan bisik masa.
Tatkala itu, dititi langkah dari masa tanpa rama.
Guratan lama perlahan terkikis oleh arus waktu.
Namun kisah lampau masih mengendap di dasarnya.
Dahulu, ia menjadi lentera bagi tapak yang berkelana.
Mengarungi arus zaman laksana sang nakhoda.
Di tepi batas layar tua berlabuh.
Lembar perjalanan terukir ulang oleh jemari masa,
menorehkan warisan di pelataran aksara.
Duhai, hamparan penadah riuh,
mendekap asa di ufuk yang teduh.
Menyalakan pijar di pelayaran tapak kilas.
Menjemput terang di ambang fajar.
Hingga bermuara pada cahaya yang tak lekang oleh waktu.
(Jurnalistik SMK NU 1 Karanggeneng, 23 Agustus 2026)