Info Kontak

Suara Hati dalam Kata: Karya Puisi Anggota Jurnalistik SMK NU 1 Karanggeneng

Suara Hati dalam Kata: Karya Puisi Anggota Jurnalistik SMK NU 1 Karanggeneng

Sastra merupakan salah satu media yang mampu merekam perasaan dan pengalaman manusia secara jujur dan mendalam. Melalui puisi, penulis dapat menyampaikan kegelisahan, harapan, hingga proses menerima kenyataan hidup dengan bahasa yang indah dan penuh makna. Hal inilah yang tercermin dalam karya-karya anggota Organisasi Jurnalistik SMK NU 1 Karanggeneng berikut ini.

Dua puisi yang ditampilkan dalam artikel ini lahir dari perenungan personal para penulisnya. Masing-masing mengangkat tema yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti kehilangan dan pencarian makna kebahagiaan, yang dikemas dengan metafora dan refleksi batin yang kuat.

Hilang Tanpa Pamit

Karya: Nurma Indana Zulfa

Alam berbisik
Dahan rapuh mengayun
Ranting telah melepasnya
Tanpa harus kehilangan seluruh daunnya

Perlahan...
Tangis ini jatuh
Membasahi tanah yang tandus
Akar kembali merajut kehidupan

Semesta seolah mengerti tanpa harus kupinta
Aku kembali tumbuh
Menghadirkan sekuntum bunga
Dengan daun yang membersamainya

Aku...
Yang tak pernah menuntut sang surya
Walau telah ku genggam erat
Namun angin tetap merenggutnya dariku

Puisi ini menggambarkan proses kehilangan yang datang tanpa peringatan, namun tidak sepenuhnya mematahkan harapan. Melalui simbol alam, penulis menunjukkan bahwa dari rasa kehilangan dapat tumbuh kekuatan baru untuk bangkit dan melanjutkan kehidupan.

Kebahagiaan yang Semu

Karya: Chamidah Arieza Hanum

Aku pernah menitipkan bahagia
pada mata orang lain,
pada pencapaian yang berkilau
dan cerita yang tampak lebih indah dari punyaku.

Kupikir bahagia harus ramai,
harus tinggi,
harus diakui agar terasa nyata.
Namun waktu mengajarkanku
mendengar sunyi.

Di sana, bahagia ternyata duduk tenang—
di napas yang masih setia,
di langkah kecil yang terus berjalan
meski lelah sering datang tanpa permisi.

Bahagia tidak selalu bersinar,
kadang ia redup
namun hangat.
Ia hadir saat aku berhenti berlomba,
saat aku memeluk diriku sendiri
tanpa syarat, tanpa perbandingan.

Aku bersyukur pada hati yang retak
namun tak runtuh,
pada luka yang tak bercerita
namun diam-diam membentukku.

Kini aku paham,
bahagia bukan soal memiliki dunia,
melainkan berdamai dengan diri
dan pulang ke hati
yang akhirnya merasa cukup.

Puisi ini mengajak pembaca untuk merefleksikan kembali makna kebahagiaan. Bahagia tidak selalu tentang pengakuan dan pencapaian, tetapi tentang penerimaan diri, ketenangan, serta keberanian untuk berdamai dengan keadaan.


Melalui dua puisi ini, anggota Organisasi Jurnalistik SMK NU 1 Karanggeneng menunjukkan bahwa karya tulis tidak hanya berfungsi sebagai sarana informasi, tetapi juga sebagai ruang ekspresi dan perenungan. Semoga karya-karya ini dapat menjadi inspirasi bagi siswa lainnya untuk terus berkarya, menulis, dan menyampaikan suara hati melalui sastra.